Cerpen Santri - "Antum?" | Muhammad Febriansyah
Cerpen Santri
By Muhammad Febriansyah
“Antum?”
Terang terik siang menerangi siang ini, disini, di
sebuah Pondok Pesantren. Ditemani lambaian awan putih yang lembut, seputih dan
selembut kapas. Tepat di samping masjid, ada seorang santri yang sedang
bersandar di dinding hijau nan teduh. Dengan rautan wajah yang menggambaran
sebuah pertanyaan, pertanyaan yang membuat dirinya mencari cari jawabannya
dengan logika sederhana, sayangnya ia sendiri sulit menemukan jawaban tersebut.
“fyuh...”-Lirih santri tersebut
saking sulit menemukan apa yang ia cari, saking sulit menemukan jawaban dari
pertanyaan – pertanyaan yang muncul di benaknya. Selang waktu, ia tersenyum
sendiri, selang waktu lagi ia bermuka masam. Begitu banyak pertanyaan yang sedang
menunggu untuk ditemani sebuah jawaban, namun naas masih belum ada jawaban yang
memuaskan. Bilapun ada, tetap tidak memenuhi kepuasan benaknya itu, karena
jawaban yang ia dapat bukan berasal dari orang lain, melainkan dari diri
sendiri yang mana jawaban tersebut masih menjadi sebuah pertanyaan benar atau
tidaknya jawaban.
Alasan begitu banyak pertanyaan
dibenaknya adalah karena ia adalah santri baru di pondok tersebut. Namanya
Ebih. Ebih baru pertamakali merasakan suasana yang berbeda. Tidak seperti
biasanya, terbayang wajah kawan yang biasa menyapa, kini ia hanya terdiam.
Maklum, ia masih baru. Belum bisa beradaptasi dengan yang lainnya. Namun bukan
itu pertanyaan yang menemaninya siang itu, melainkan kebiasaan yang unik dan
aneh yang baru ia lihat pada hari pertama mondok. Tak lama setelah itu, datang
seseorang menghampirinya.
“Assalamu’alaikum!” – Sapa salah
seorang santri saat itu. Dengan memasang muka kaget, Ebih pun langsung menjawab
sapaan santri tersebut.
“Wa’alaikum Salam” – Jawabnya yang masih
memasang ekspresi muka kaget setelahnya berwajah kosong. Di lanjut dengan muka
analisis yang membisikan benaknya bahwa orang ini terlihat lebih dewasa,
sehingga analisis tersebut berkata bahwa kemungkinan besar orang ini adalah
santri lama di pondok ini.
“Antum kenapa bengong – bengong sendiri?”- Pertanyaan santri tersebut, sembari menepuk bahu Ebih. Namun, bukannya
ingin menjawab pertanyaan tersebut, malah ingin protes, karena pertanyaan
tersebut malah menjadi pertanyan baru baginya.
‘Hah?
Antum?’ Lirih Ebih dalam hati yang merasa protes akan kata ‘Antum’
tersebut.
‘Sok!
Tahu sekali ia menyebut saya Antum?, nama saya Ebih bukan Antum’ grutu Ebih
dalam hati. Dengan sigap Ebih pun menjawab pertanyaan tersebut.
“Nama saya Ebih kak, bukan Antum!”-
jawab Ebih.
“Oh, nama Antum Ebih,” – tambah
santri tersebut.
“Bukan Antum Ebih kak, Tapi Muhammad
Febriansyah, suka di panggil Ebih, bukan 'Antum Ebih' nama saya”- jawab Ebih
dengan memasang muka masam karena merasa santri tersebut ‘Sok Tahu’ dengan
memanggilnya ‘Antum Ebih’.
“Hah? Maksudnya?” – tanya santri
tersebut dengan muka kerut karena jawaban Ebih tersebut.
‘Apa
yang sedang dibicarakan sebenarnya?’.
Sama dengan Ebih yang bermuka masam karena pertanyaan yang malah bukan menjadi jawaban tetapi menjadi pertanyaan lain.
Sama dengan Ebih yang bermuka masam karena pertanyaan yang malah bukan menjadi jawaban tetapi menjadi pertanyaan lain.
‘Kenapa
ia bertanya, tapi ketika diberikan jawaban malah bertanya – tanya?’.
“Maksudnya nama Saya Ebih kak, bukan
‘Antum Ebih’ ”- Jelas Ebih dengan percaya diri.
“Memangnya siapa yang menyebutkan
nama antum itu ‘Antum Ebih’? ”- Tambah santri itu. Semakin lama mendengar
setiap jawaban santri tersebut, semakin membuat Ebih prustasi,
‘Kenapa
Santri itu masih memanggil Saya itu Antum Ebih sih?’ -gerutunya padahal
Ebih sudah menjelaskan dengan jelas bahwa namanya itu Ebih, dan nama panjang
nya iu Muhammad Febriansyah. Tapi kok kenapa santri itu Keukeuh memanggilnya
‘Antum Ebih’, fikir Ebih.
Tanpa sadar, santri tersebut tertawa
sendiri melihat ekspresi Ebih yang semakin berkerut akibat pertanyaannya
tersebut, namun hanya beberapa saat.
“Hahahaha....”- Tawa santri tersebut
sambil memegang kepalanya sendiri dengan tangan kanannya.
“Kenapa kakak malah tertawa?”- tanya
Ebih yang bingung melihat santri itu tertawa terbahak – bahak.
“Hahahaha,,,, Antum ada – ada aja” –
Jawab santri tersebut sambil melanjutkan tawanya. Sementara Ebih semakin
bingung,
‘Nih
orang aneh’ - lirih Ebih dalam hati.
“Eh Afwan, sorri,, maksudnya Kamu
hahaha...” - tambah santri tersebut memotong tawanya. “Kak, kakak sehat?” – tanya Ebih
yang semakin bingung dengan santri tersebut. Bahkan membuat Ebih beranggapan,
‘apa jangan – jangan orang ini sedang tak waras’ anggap Ebih dalam hati.
‘apa jangan – jangan orang ini sedang tak waras’ anggap Ebih dalam hati.
“Wuahahaha...!”- tawa santri
tersebut yang semakin terbahak – bahak dengan pertanyaan Ebih.
“Kak kenapa sih kok malah ketawa –
ketawa sendiri dari tadi?” – tanya Ebih dengan tegas dan memasang muka kesal.
“Kamunya yang membuat Ane ketawa
terbahak - bahak hahahah!” – Jawab santri tersebut yang masih menikmati
tawanya.
“Kok jadi saya kak? Orang dari tadi
kakak yang aneh, kakak yang nanya eh langsung ketawa gitu” – Jelas Ebih.
“Yah jelas kamu lah, jadi kamu pikir
saya manggil kamu Antum itu nama kamu?” – Tanya Santri tersebut.
“ia” – Jawab Ebih simpel, sambari
mengangguk anggukan kepalanya.
“Bahasa arabnya Kamu itu ‘Antum’,
jadi tadi saya ganti kata ‘Kamu’ dengan kata ‘Antum’, soalnya itu kebiasaan
santri memanggil kawannya kamu itu gimana. Masa, antum antum aja enggak tau”-
Jawab santri tersebut dengan jelas.
“Sok tahu!, kakak tuh yang enggak
tau!”- kata Ebih dengan nada protes.
“Maksudnya sok tahu itu gimana?
Orang kakak bener kok” – Jelas Santri itu.
“Bahasa arabnya ‘Kamu’ itu ‘Anta’
kak, bukan ‘Antum’. Masa, anta anta aja enggak tau” – Jawab Ebih dengan meniru
gaya berbicara santri tersebut.
“Sama aja Malik!”- tambah santri
tersebut.
“Ebih kak!, bukan Malik! Et dah
bocah ngapa ya?” – kata Ebih menjawab perkataan santri tadi.
“Malik itu kiasan Ebih!, Et dah
bocah ngapa ya?” – kata Santri tersebut dengan meniru gaya bahasa Ebih baru
baru ini.
“lagi juga sama dari mana coba kak?
Kata ‘antum’ sama ‘anta’ ?” – Tanya Ebih menambahkan.
“Sekarang kakak tanya, orang betawi
suka bilang ‘Ente’. Bedanya ‘anta’ sama ‘ente’ apa coba? – tanya santri
tersebut yang malah bertanya di atas sebuah pertanyaan.
“Dih, kok malah nanya balik?”- kata
Ebih sambil bertanya. “Beda lah, ‘anta’ mah pake A pertamanya, ‘ente’ mah pake
E pertamanya.” – Jelas Ebih menambah perkataanya tadi.
“Artinya?” – tanya santri tersebut.
“Kamu”- Jawab Ebih simpel.
“Ya ini juga sama bih, inti dari
Antum sama Anta sama – sama ‘kamu’ artinya. – Kata Santri tersebut menjelaskan.
“Masa?” – tanya Ebih dengan
penasaran.
“Bodo” – Jawab santri tersebut
sembari tertawa.
“Yehhh,,, saya serius kak!” – Kata
Ebih
“Serius Malik!” – jawab santri itu
meyakinkan. “ ‘Antum’ itu lebih ke Jamak, artinya ‘Kalian’. Tapi Ustadz Ustadzah
juga suka manggil dengan kata ‘Antum’ walau pun kepada satu orang. Kenapa kita
juga enggak?” – Jelas santri itu.
“Ya, gak semua yang Ustadz Ustadzah
lakuin harus kita lakuinkan kak?, bagaimana kalau Dia salah coba?” – tanya Ebih
sambil menjelaskan.
“Ustadz itu artinya Guru, Guru itu
di Gugu dan Di Tiru bih kata Dilan juga, lagian ya kalo salah juga keliatan
ngapain juga kita lakuin” – Jelas santri tersebut sambil tersenyum.
“Yah pecinta Dilan, dia. – Kata Ebih.
“Dih sorri, masih normal saya bih!,
mending cinta Mileanya aja” – kata santri tersebut yang sengaja berpura pura
tidak mengerti apa yang Ebih ucapkan.
“Maksudnya Kakak pecinta film Dilan,
bukan kakak yang cinta Dilan, gimana seh, gitu aja gak peka” – Jelas Ebih
kepada santri tersebut.
“Yah jelas beda lah, hha. Ia ia
kakak juga ngerti kok, Cuma bercanda aja, sambil ngejelasin yang tadi, kata
‘Antum’. Kata ‘Antum’ juga begitu bih, lagi juga orang kakak enggak suka sama
film” – Kata santri itu.
“Oh begitu” – Jawab Ebih dengan
menganggukkan kepalanya berulang ulang.
“Itu tau dari Dilan dari mana coba
kalo bukan nonton filmnya?” – tanya Ebih.
“Yah... dari orang orang aja” –
Jawab Santi itu
Semakin lama percakapan semakin
menyenangkan, meskipun agak ngawur kesana – kesini, padahal Ebih dan santri
tersebut baru kenal, bahkan Ebih belum sempat menanyakan nama santri tersebut. Topik
yang sebenarnya ingin di bahas oleh santri itu adalah menanyakan alasan kepada
Ebih, kenapa ia melamun melamun sendiri. Tetapi, malah berakhir memperdebatkan
kata ‘Antum’. Dan santri itu rupanya masih penasaran dengan niat awalnya
tersebut. Namun belum sempat bertanya ulang, Ebih sepertinya masih penasaran
dengan topik ‘Antum’ ini.
“Oh ya kak? Kenapa pake kata ‘antum’
enggak kata ‘anta’? – Tanya Ebih yang menarik kembali topik ‘Antum’ tersebut.
“Ya bagaimana ya? Rasanya kalau pake
kata ‘anta’ itu terlalu resmi bray, lagi juga udah keenakan pakenya kata
‘Antum’ ” – Jelas Santri itu.
“Oh...” – Kata Ebih. “Semua santri
suka menggunakan kata ‘antum’ disini kak?”- tanya Ebih menambahkan.
“Enggak semua juga sih, ada yang
‘Ente’, ada yang ‘anta’, ada yang ‘Kamu’ aja, Cuma kebanyakannya aja dipondok
ini menggunakan kata ‘antum’ ”- Jawab santri itu.
“Tapi unik juga ya kak, lucu gitu
jadinya. Apalagi kalo ngomongnya sama yang gak tau kayak saya hha”- Kata Ebih.
“Makanya tadi kakak ketawa terbahak
bahak juga haha, dan bukan hanya unik bih, namun menginspirasi” – Jelas santri
itu.
“Menginspirasi? Kayak judul lagu” –
kata Ebih sambil bercanda.
“Et dah malah judul lagu, lagu siapa
coba, yang judulnya ‘Menginspirasi’ ?” – Tanya santri tersebut yang sengaja
menanyakan hal itu padahal ia tahu bahwa Ebih sedang bercanda.
“Becanda kak!” – kata Ebih dengan
simpel.
“Ber kali bukan Be, itu huruf R nya
jangan di buang, nanti yang ciptain Bahasa Indonesia marah loh” – kata santri
itu.
“okelah oke, Bercanda kakak. Lagian
juga emang siapa pencipta Bahasa Indonesia? Kayak tau aja” – Kata Ebih.
“hhe gak tau” – Kata Santri itu
simpel.
“Emangnya inspirasi kata ‘Antum’ apa
kak selain unik?” –tanya Ebih mengganti topik bahasa.
“Ya salah satunya membedakan aja
antara Santri dan bukan santri” – Jawab Santri itu.
“Satu disalah salahin” – Kata Ebih
bercanda. “Lagian bukannya yang membedakan santri dan bukan itu dilihat dari
pakaiannya ya kak? Seperti menggunakan sarung dan peci?” – Tanya Ebih,
“Nah itu Salah dua nya” –Jawab
Santri itu.
“Tadi satu yang disalahin, sekarang
dua yang disalahin, kakak mau gak disalahin?” – tanya Ebih dengan niat
bercanda.
“Kamu itu ngomongin apaan sih, Aneh
tau gak?. Kakak mau disalahin kalau kakak memang salah” – kata Santri itu.
“Becanda kak!” – kata Ebih. Dengan
sadar Ebih menambahkan “Bercanda kak, hhe bukan becanda tuh huruf R nya
ditambahin hehehe” – kata Ebih.
“Haha ia kakak juga tau” – kata
Santri itu.
“Oh ia kan kakak belum ngenalin
diri, nama kakak siapa?” –Tanya Ebih mengisi topik pembicaraan.
“Nama Kakak Arie Mulki Supriadi,
temen temen sih suka manggil Arie” – Kata Santri yang ternyata bernama Arie itu.
“Oh, nama Antum Arie” – Kata Ebih
memancing candaan kata ‘antum’ yang di mulai di awal percakapan
“Bukan bih, bukan ‘Antum Arie’ tapi
Arie aja!” – Kata Arie yang mengetahui bahwa Ebih sedang memancingnya untuk
bercanda bersama.
“Maksud
antum gimana?, jadi nama Antum itu ‘Arie aja’? ”- Tanya Ebih sembari menambah
candaan lain.
“Bukan bih, nama saya bukan ‘Antum
Arie Aja’ tapi ‘Arie Mulki Supriadi’ ”- Jelas Arie sambil tersenyum mengerti.
Tak lama kemudian mereka berdua tertawa bersama dengan candaan yang mereka buat
sendiri. Sehingga tanpa sadar, Arie lupa menanyakan alasan lamunan Ebih tadi
dan mereka berdua menjadi sangat akrab saat itu.
***
Getar suara bedug mengisi kekosongan
hari itu, hari dimana Ebih mengerti kata ‘Antum’, hari dimana Ebih berteman
dengan santri lama di awal pertamanya mondok. Di susul suara adzan yang merdu
nan indah didengan dan sejuk di hati, juga sebagai panggilan Shalat pada saat
itu, yaitu Shalat Ashar. Ariepun mengajak Ebih ke dalam masjid bersama untuk
bersiap shalat Ashar berjamaah.
“Allahu akbar, Allahu akbar!” –
Suara Speaker masjid yang diduduki lantai masjid luarnya oleh Ebih dan Arie.
“Alhamdulillah, sudah masuk waktu
shalat Ahsar, mari masuk masjib bih” – Ajak Arie kepada Ebih.
“Antum duluan aja, Ane belum wudlu”
– jelas Ebih.
“Wis, langsung diamalin nih, keren!”
– Kata Arie menambahkan.
“Harus dong, kan ‘Ilmu yang tidak di
amalkan, bagai Pohon tak berbuah” –Kata Ebih menjelaskan.
“Kirain ‘Bagai taman tak berbunga’
”- Kata Arie sambil bercanda.
“Oh begitulah kata para pujangga” –
Kata Ebih meneruskan perkataan Arie tadi sambil dinadakan ala lagu aslinya yang
dinyanyikan pedangdung Indonesia Roma Irama.
“Ya Elah pecinta Roma Irama” – Kata
Arie menambahkan candaannya.
“Sorri kak, masih normal saya,
mending cinta Roma Kelapa aja hhe”- Kata Ebih mengerti candaan Arie tadi.
“Okelah oke, sekarang cepet wudlu,
nanti ketinggalan berjamaah”- Kata Arie
“Siap Bos!” – Jawab Ebih sambil memberi
hormat kepada Arie layaknya hormat kepada pemimpin ucapacara.Tanpa Ebih sadari,
pertanyaan – pertanyaan yang berada dibenaknya tadi tiba tiba menghilang,
karena sebenarnya pertanyaan pertanyaan yang lapar akan jawaban di benak Ebih tadi
adalah kebiasaan unik santri yang lain, namun hilang dengan sendirinya karena
waktu yang akan menjelaskan kepadanya nanti. Dan setelah itu, kini Ebih jadi
lebih membiasakan memanggil kawannya dengan kata ‘antum’ ataupun ‘ente’,
mengingat selain unik, kata Arie juga berinspirasi sebagai salah satu ciri
santri, yaitu ciri mengamalkan Bahasa Arab yang di ajarkan di pondok untuk
diamalkan sehari hari.
Tamat.
Unik dan menarik, bikin ketawa pula
BalasHapusHehehe massa?
Hapusgoodlah!
HapusExcelent! kocak nih cerpen
BalasHapushhe asa biasa geh
HapusKami segenap civitas SMK TB, mendukung dan mendorong kalian semua...
BalasHapusBravoo Muhammad Febriansyah kls xii_mm
http://www.radarbangsa.com/opini/15360/antum?fbclid=IwAR1B1tPVxw86MNw6HoDZ50SE3q31nvYFEle67Eo8KFZagsy25T2S55a2MKY#.W95TVshfrmI.facebook
Hapushttp://www.radarbangsa.com/opini/15360/antum?fbclid=IwAR1B1tPVxw86MNw6HoDZ50SE3q31nvYFEle67Eo8KFZagsy25T2S55a2MKY#.W95TVshfrmI.facebook
BalasHapusKerenn,tingkatkan kang ebay
BalasHapusTerimakasih telah mengharumkan nama baik pondok pesantren nurul hidayah Bojongnangka dan Smk terpadu bojongnangka👏👍
:)
Hapushttp://www.radarbangsa.com/opini/15360/antum?fbclid=IwAR1B1tPVxw86MNw6HoDZ50SE3q31nvYFEle67Eo8KFZagsy25T2S55a2MKY#.W95TVshfrmI.facebook
BalasHapus